Wednesday, 1 December 2010

PEMBERONTAKAN DI/TII

PEMBERONTAKAN DI/TII PDF Cetak E-mail
Penandatanganan Perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948 sebagai salah satu upaya untuk mengakhiri pertikaian Indonesia Belanda, ternyata telah menimbulkan dampak baru terhadap fase perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan oleh Soekarno Hatta. Penandatangan perjanjian tersebut tidak saja mempunyai akibat di bidang politik, melainkan juga berpengaruh di bidang militer Negara RI, sebagai konsekwensi logis dari hasil kristalisasi nilai-nilai pertemuan antara pihak-pihak yang mengadakan perundingan.
KOndisi ini dijelaskan oleh Disjarahad (1982) bahwa di dalam bidang politik pemerintahan RI dapat kita lihat dengan jelas. Daerah RI sesuai dengan keputusan Linggajati hanya meliputi pulau Jawa, Sumatra dan Madura semakin dipersempit, lebih-lebih lagi beberapa kota besar dari ketiga pulau tersebut di atas diduduki Belanda.
Sedangkan dalam bidang militer, pasukan-pasukan RI harus mundur dari kantong-kantong perjuangan menuju wilayah yang masih dikuasai republic. Hal ini senada dengan pernyataan Kahin (1995) bahwa pasukan-pasukan terbaik republik harus meninggalkan banyak kantong gerilya yang mereka duduki di balik garis Van Mook dan pindah ke wlayah yang masih dikuasi oleh republic.
Menurut perjanjian Renville, daerah Jawa Barat dala hal ini adalah daerah yang terletak di luar wilayah RI. Hijrahnya pasukan Siliwangi dari wilayah Jawa Barat yang dikuasai Belanda menuju wilayah Jawa Tengah yang dikuasai RI, telah menimbulkan adanya suatu kekosongan pemerintahan RI di Jawa Barat. Kondisi inilah yang kemudian dijadikan sebuah kesempatan oleh apa yang dinamakan Gerakan DI/TII untuk mendirikan Negara Islam Indonesia.
Sehubungan dengan hal ini, Anne Marie The (1964) menyatakan bahwa masa vacuum (kekosongan) pemerintah RI di Jawa Barat tidak disia-siakan oleh Kartosuwirjo untuk menjadikan idenya suatu kenyataan. Sedangkan Kahin menyatakan bahwa akhirnya di Jawa Barat, di daerah yang terletak di luar wilayah menurut ketentuan Perjanjian Renville ada suatu organisasi politik yang baru terbentuk tapi kuat dan juga mencita-citakan kemerekaan republic. Organisasi tersebut tidak mengakui Perjanjian Renville dan tidak mau berperang melawan Belanda, dikenal dengan nama Darul Islam.
Darul Islam (dalam bahasa Arab dar al-Islam), secara harfiah berarti “rumah” atau “keluarga” islam, yaitu “dunia atau wilayah Islam”. Yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah bagian dari wilayah Islam yang di dalamnya keyakinan dan pelaksanaan syariat Islam serta peraturannya diwajibakan. Lawannya adalah Darul Harb, yakni “wilayah perang, dunia kafir”, yang berangsur-angsur akan dimasukkan ke dalam dar al Islam.
Gerakan DI/TII yang dipimpin oleh SM Kartosuwirjo ini memang merupakan suatu gerakan yang menggunakan motif-motif ideology agama sebagai dasar penggeraknya, yaitu mendirikan Negara Islam Indonesia. Adapun daerah atau tempat GErakan DI/TII yang pertama dimulai di daerah pegunungan di Jawa Barat, yang membentang sekitar Bandung dan meluas sampai ke sebelah timur perbatasan Jawa Tengah, yang kemudian menyebar ke bagian-bagian lain di Indonesia.
Perbedaan-perbedaan ideologis mengenai dasar Negara sebenarnya telag ada sebelum proklamasi Negara Islam Indonesia itu sendiri. Namun adanya musuh bersama, dalam hal ini Belanda, mendorong para pemimpin bangsa Indonesia untuk mengesampingkan perbedaan-perbedaan ideologis tersebut. Van Dijk (1995) menyatakan bahwa melucuti kesatuan-kesatuan Jepang yang mundur, menentang campur tangan Inggris dan menentang kembalinya Belanda meminta perhatian setiap orang sepenuhnya dan untuk sementara menggeser perbedaan-perbedaan ideologis ke latar belakang.
Kristalisasi dari gerakan ini semakin nyata setelah ditanda tanganinya Perjanjian Renville. Adapun upaya-upaya yang dilakukan SM. Kartosuwirjo untuk membentuk Negara Islam, pertama-tama adalah dengan mengadakan Konferensi di Cisayong Tasikmalaya Selatan tanggal 10-11 Februari 1948.  Keputusan  yang diambil adalah merubah system ideology Islam dari bentuk kepartaian menjadi bentuk kenegaraan, yaitu menjadikan Islam sebagai ideology Negara. Konferensi kedua diadakan di Cijoho tanggal 1 Mei 1948, dimana hasil yang dicapai adalah apa yang disebut Ketatanegaraan Islam, yaitu dibentuknya suatu Dewan Imamah yang dipimpin langsung oleh SM. Kartosuwirjo. Selain itu disusun semacam UUD yang disebut Kanun Azazi, yang menyatakan pembentukan Negara Islam Indonesia dengan hokum tertinggi Al-Quran dan Hadist (PInardi 1964).
Adanya Aksi Polisional Belanda yang melancarkan Agresi Militer II tanggal 18 Desemer 1948, tampaknya semakin mempercepat kea rah pembentukan Negara Islam Indonesia, dimana Agresi MIliter Belanda II tersebut telah berhasil merebut ibukota RI Yogyakarta dan menawan Presiden, Wapres beserta sejumlah  Menteri. Momentum inilah yang kemudian dianggap sebagai kehancuran RI, dan kesempatan tersebut digunakan untuk membentuk Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan tanggal 7 Agustus 1949.  Peristiwa  tersebut merupakan titik kulminasi subversi dalam negeri pada masa itu.
Satu hal yang menarik dari gerakan ini dibandingkan dengan gerakan separatisme lainnya, adalah perkembangannya yang cukup lama di atas wilayah yang cukup luas. Keuletan ini tidak terlepas dari factor-faktor yang mempengaruhi munculnya gerakan DI/TII, yang kemudian mendorong sebagian rakyat untuk ikut mendukung gerakan itu, yang akhirnya memberi kekuatan dan keuletan pada Gerakan DI/TII selama hampir 13 tahun.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, gerakan in ternyata hanya menimbulkan penderitaan dan penindasan terhadap rakyat. Kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada rakyat seringkali menjadi sumber penderitaan dari kekejian yang semena-mena. Kahin (1995) dalam hal ini menyatakan bahwa kerja sama perani dengan Darul Islam makin lama makin disebabkan oleh terror yang dilakukan Darul Islam dan petani tidak mendukung organisasi tersebut karena nasonalisme dan agama. Namun rakyat kota relative lebh reada. Lebih buruk keadaannya di pedalaman, tempat desa-desa diserbu, dalam beberapa daerah sangat sering barang-barang dan hasil panen dirampas, dan rumah, jembatan, mesjid dan lumbung padi dibakar atau dimusnahkan.
Tidak sedikit penderitaan yang ditanggung rakyat Jawa Barat khususnya, karena gerakan ini melakukan terror terhadap mereka. Untuk kepentingan gerakannya mereka merampok rakyat yang tinggal dipelosok-pelosok terpencil di lereng gunung, sehingga menurut Ricklef (1995) sulit membedakan gerakan DI dari tindak perampokan, pemerasan, dan terorisme dalam ukuran luas.
Kondisi yang demikian mau tidak mau menjadi suatu masalah yang seriusdalam kehidupan bangsa Indonesia. Kekacauan-kekacauan politik yang terjadi pada masa itu, ternyata telah menimbulkan dampak yang luas dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat yang lain seperti social, budaya, dan ekonomi (Ismaun 1997).
Gerakan DI/TII akhirnya tetap menjadi sebuah pemberontakan daerah, sampai akhirnya SM. Kartosuwirjo tertangkap tanggal 4 JUni 1962 dalam sebuah operasi yang bernama Pagar Betis. Dengan penangkapan dan pelaksanaan hukuman mati terhadap SM. Kartosuwirjo, maka berakhirlah pemberontakan yang terorganisir di Jawa Barat selama lebih dari 10 tahun. Namun hal itu tidak cukup membuat peristiwa tersebut mudah dilupakan, katena walau bagaimanapun gerakan ini tidak saja menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat biasa, melainkan juga sebuah tragedy dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia menegakkan kehidupan berbangsa dan bernegara

Monday, 29 November 2010

aneuk gampong nonton pilem india, aneuk kota nonton pilem barat.

Posted by: srya on: April 16, 2009
:) waktu ayi mau nulis nih, ayi ketawa dulu lah.. ini bermula karena,
“ayi nyoe galak that nonton pilem india kahee, lagee aneuk gampong mantong,” kata teman2 ayi.
Hah,, ayi yang awalnya dengan semangat 45 mau cerita pilem india yang semalam nonton langsung berubah muka nya dari begini :) jadi begini :(
“mang nya napa seh dengan pilem india,” tanya ayi dengan penuh tanda tanya ???????????? (nah banyak kan, ada berapa hayoo tanda tanya nya..)
“hari gene nonton pilem india, ABCDE ( Aduh Bro Capee Deh Embeer), nonton pilem yang bermutu sikit lah yi macam pilem barat keq, masa india seeeeeh,” Kata kawan ayi.
“wah pilem india tuh mantap euy, ada nyanyi nyanyi nya,” kata ayi membela diri
“itulah ayi tuh macam anak kampong, masih aja nonton pilem india,kita tuh harus jadi anak kota sikit lah yi..”kata kawan ayi
“huhahahahahahahahaha ayi keknya mending jadi aneuk gampong,”kata ayi :)
ayi langsung  dari begini :(   jadi begini  :) .Suka suka gw donk ( kata ayi dalam hati ) en kenapa ya ayi suka pilem india???   ceritanya macam nih,
ayi kecil dulu pernah dijaga oleh yang namanya kak lina. ayi kecil dijaga oleh kak lina, sewaktu ibuk ayi pegi mengajar. yah kira kira dari jam 8 pagi ampe jam 11 siang.
nah kak lina nih asalnya dari beutong. Tau gak seh lo tuh daerah beutong ???? aduh baca sejarah donk..  nih ayi kecil kasih tau ya,,, daerah beutong tuh termasuk daerah konflik dulunya (perhatikan kata “dulunya” bearti sekarang enggak ya) nah kalo ayi kecil bilang daerah beutong, ayi kecil langsung teringat ma Teungku Bantaqiah. sape tuh??? cari ndiri. jeh dah ngomongin sejarah pula ayi kecil nih (sambilan euy..)
ketika ibuk ayi pergi, ayi kecil tidak bole pergi kemana2 jadi harus berda di dalam rumah selama 4 jam. ayi kecil akhirnya nonton tivi ja deh. bukannya menonton pilem anak2. tetapi ayi kecil disuruh menonton pilem india di channel TPI (Televisi Pendidikan Indonesia, bukan hai dek nong melainkan Tontonan Pilem India) ama kak lina. Alamak oi…. ayi kecil udah nonton yang menari2 sexy yang nampak2 pusat.
itu bisa merusak moral anak !!!! Waspadalah Waspadalah Waspadalah (Bang napi kalleeeee)
ayi kecil tetap seperti anak2 tidak memperdulikan, tetapi ingat!!! kehidupan ayi kecil tidak dipenuhi dengan pilem india. melainkan dipenuhi dengang jak u blang,  pegi ke sungai, main ma aneuk gampong pokoknya serba gampong lah..
ayi kecil bahagia karena menjadi aneuk gampong tuh!! Mantap euy,,,
nah karena ayi kecil suka nonton pilem Kuch Kuch Hota Hai trus Kabhi Kushi Kabhi Gham, kalo pilem itu ampe sekarang gak bosan. Tapi kalo nonton pilem lain, akhir2 nih ayi gak punya banyak waktu karena ayi sok sibuk

BASA ATJÈH ”PRIMITIF” ??

 
Dalam madjallah ”Su Masjarakat Atjèh” (1 Desember, 1986) njang teubiët di Peutawi (Djakareuta) geutanjoë batja deungon hireuën saboh karangan uléh Drs. Ismail Husin, njang disinan djipeugah bahwa basa Atjèh na-keuh saboh basa ”primitif”. Dan meunjoë meunan, maka geutanjoë Atjèhpih nakeuh saboh bansa ”primitif” tjit. Geutanjoë that lom hireuën meunjoë njang tuléhnjoëpih nakeuh bansa Atjèh-tjit sabab ka geudjak peuhina droë dan bansa droë dan basa droë deungon hana ‘èleumèë. Dan ka geudjak sipreuëk haba njang kon-kon djak peusisat dan peuhina bansa droë.

"Seubatji tgk2 kalon di geuniréng tgk maséng2 , njang Ma dan Du djih atjèh - tapi ka handjeuët lé marit basa atjèh. Bahkan Ma ngon Du bangga watèë si Nyak handjeuët lé djimarit basa Ma djih! Bahkan na "urg2 patôt", "urg2 rajek", "calon2 waki peunjajah djawa di atjèh" aneuk ngon inong ka handjeuët marit lé basa atjèh. Pakriban njoë??? Pakriban geukeumeung atô nanggroë atjèh - meu-aneuk dan inong direumoh hankeumah geu atô?"

 
Njoë nakeuh saboh dali njang peutunjok bak geutanjoë pakriban ka rhôt seumangat, ka gadoh juëm droë, ka hana lé marwah, ka hana lé keumuliaan droë bak ureuëng2 Atjèh njang teurimong peundédékan kolonialis Djawa, sabab ka djipeukeunong peunjakét ”inferiority complex” (peurasaan-hina-droë) bak siteungoh bansa Atjèh. Jôh masa Beulanda dan jôh masa meurdéhka dilèëkon, bak bansa Atjèh na sipheuët ”superiority complex” (peurasaan-mulia-droë), meunan dji-angkèë uléh Snouck Huurgronje. Uroë njoë sipheuët djroh njan ka meugantoë, ka mubalék nibak njan. Njoëkeuh akibat njang djeuheuët that nibak ”peundidékan” sipa-i Djawa, njang ubé buët kon peundidékan njang djibri, teutapi djipubangai.

Akibat nibak njoë nakeuh bansa Atjèh ka hana lé peumulia droë, dan keumuliaan njan ka djitja'hèt bak bansa gob laén, juëm droë ka dji juë bôh bak gob; deungon geutanjoë han djeuët lé dong keudroë ( handjeuët lé meurdéhka), dan kadjeuët gob peu-ék-peutrôn. Meunjoë gob kheuën geutanjoë ”primitif”, maka ka djiteurimong meunan-meunan ladju deungon hana seumiké sabab handjeuët lé djiseumiké. Dalam sikula sipa-i Djawa hana djipeurunoë seumiké: njang djipeurunoë supaja ta’at keu sipa-i dan bandét2 Djawa dan supaja kagum, tahe, peunjo peuë njang djipeugah lé bansa lua. Njoëkeuh njang geupeunan ”peundjadjahan budaja/kultur” njang djeuët keu mukaddimah, peuneuphôn nibak peundjadjahan politék. Keudjadian diateuh peutunjok bahwa ureuëng2 Atjèh njang ka Djawa didék ka keunong peunjakét ”inferiority complex” dan kadjeuët keu kureubeuën peundjadjahan budaja dan politék.
 
Dalam karangannjan ka geupeugah bahwa na sidroë ”professor” Amerika (meunandjihpih hana meusoë, hingga karangannjan hana patôt geupeuteubiët sagai2) dan geutanjoë AGAM keumeuëng teupeuë soë nan dan peuë alamatdjih mangat djeuët tameuhubông dan tapeurunoëdjih.
Narit ”primitif” dalam basa2 Eropa meumakna: gasa (lawan daripada halôih); basa njang han keumah peulahé peurasaan njang halôih2 dan mulia; njang han keumah tjukèh haté soë njang deungo; han keumah peuweuëh atawa peukhém, peupatah seumangat atawa peubeuhô; basa njang ban lahé, gasiën dan hana séb keu hudép budaja njang madju; basa njang ban djeuët meususôn dan gohlom sampôrna; basa njang meuriwang bak manusia mantong biadab dan gohlom meu agama; basa njang mantong primitif meumakna gohlom meu-adab, meu-budaja dan gohlom djitu’ôh hudép mumasjarakat.
 
Basa tanda bansa.
 
Deungon djipeugah basa geutanjoë primitif, maka djimeukeusud bansa geutanjoëpih primitiftjit. Njoë mandum KON sipheuët basa Atjèh dan KON sipheuët bansa Atjèh. Dalam kitab Encyclopaedia Britannica ka geutuléh bahwa : The Achehnese has an ancient civilization” (”Bansa Atjèh ka na saboh tamaddun, keubudajaan, peuradaban njang djameun dan useuëng lagèëna”) njakni njang ka meu-umu meuribèë-ribèë thôn. Bansa Atjèh ka geutumuléh kitab2 dan sja’ir2 dalam basa Atjèh ka meuribèë thôn. Basa njang peulahé sja’ir2 njang tjeudaih2 dan meugah2 lagèë Hikajat Banta Lidan, Hikajat Putroë Hidjô, Hikajat Malém Dagang, Hikajat Hasan Husén, Hikajat Prang Sabi, dan meureutôih njang laén, KON basa primitif! Tamaddun, keubudajaan dan peuradaban bansa Atjèh kon tamaddun primitif: tamaddun hana bak basa/bansa primitif. Na bak basa/bansa njang ka karang kitab dan sja’ir, bak basa/bansa njang kalheuëh gob peunan ”Seuramoë Makkah”, bak basa/bansa njang ka lheuëh gob angkèë sibagoë ”pusat Dônja Meulaju dalam masa limong abad. Saboh basa/bansa njang paléng madju dan meu-adab didônja Meulaju/Asia Teunggara ka djidjak peugah ”primitif” uléh sidroë Amerika njang hana meusoë nan. Haba2 njang kon-kon lagèënjanpih djitém teurimong uléh ureuëng Atjèh njang ka hana djitu’ôh lé seumiké meurdéhka sabab ka djidjadjah uléh Djawa.
"Alasan njang djipeugah basa geutanjoë ”primitif” nakeuh sabab basa Atjèh nakeuh basa njang ”monosyllable” njakni paneuëk2, sikrak-krak, trang2, glaih2, lagèë basa Inggréh, dan kon lagèë basa Djawa njang panjang2, meubahuë-bahuë, meu’tjuët-’tjuët hana meupeuë sapeuë. Basa Inggréh nakeuh saboh basa njang monosyllable-tjit. Peuë basa Inggréhpih primitiftjit? Pakon basa Atjèh djidjak peugah ”primitif” dan pakon basa Inggréh hana djipeugah primitif? Pakon hana geutanjong peukaranjoë bak ”professor” Amerikanjan? "
 
Alasan njang djipeugah basa geutanjoë ”primitif” nakeuh sabab basa Atjèh nakeuh basa njang ”monosyllable” njakni paneuëk2, sikrak-krak, trang2, glaih2, lagèë basa Inggréh, dan kon lagèë basa Djawa njang panjang2, meubahuë-bahuë, meu’tjuët-’tjuët hana meupeuë sapeuë. Basa Inggréh nakeuh saboh basa njang monosyllable-tjit. Peuë basa Inggréhpih primitiftjit? Pakon basa Atjèh djidjak peugah ”primitif” dan pakon basa Inggréh hana djipeugah primitif? Pakon hana geutanjong peukaranjoë bak ”professor” Amerikanjan? Uléh Ismail Husin geutuléh bahwa basa Atjèh nakeuh ”basa daerah”, ”basa lokal” dan basa ”suku-bangsa”. Njan mandum KON. Basa Atjèh kon basa ”daerah” teutapi basa saboh Nanggroë: Nanggroë Atjèh njang djameunkon meurdéhka dan meudèëlat. Kon basa ”daerah” nibak djadjahan sipa-i Djawa/indonesia. Nanggroë Atjéh njoë kon ”daerah” nibak neugara dan bansa luwa. Basa Atjèh kon basa ”lokal” teutapi basa rasmi njang sah dan meugah nibak saboh bansa njang meuriwajat dan meuseudjarah njang gilang-geumilang. Bansa Atjèh kon ”suku-bangsa” njakni sukèë nibak bansa gob laén, teutapi bansa njang dong keudroë, ateuëh Tanoh droë, ateuëh rhuëng dônja. Ismail Husin ka djirhah utak uléh peundidékan salah nibak sipai Djawa peundjadjah, njang ka keunong peunjakét inferiority complex. Hana neuduëk2 ilmiah daripada haba2 gobnjan dan haba ”professor” Amerika gobnjan njan.
 
‘Ôhlheuëhnjan djidjeuët peugah lom bahwa makna ”primitif”njan nakeuh = asli, murni, dll, sang2 geutanjoë hana tateupeuë sapeuë. Geutanjoë bansa Atjèh djih djak pubangai. Narit peuhina djipeugah narit peumulia. Kamus ka djidjak tuka. Geutanjoë ka djidjak peu aneukmiët: djimarit lagèë djimarit deungon aneukmiët. Dan ureuëng lagèë Ismail Husin geudeungo. Hanséb ‘ôhnan mantong, djinoë ka geudjak peudeungo haba njang kon2 njan ban saboh nanggroë Atjèh. Hingga ka pajah geutanjoë djaweuëb dalam AGAM njoë sabab geutanjoë wadjéb ta peutheuën nan, keumuliaan dan keuhormatan basa dan bansa Atjèh. Meunjoë kon meunan maka peunjakét inferiority complex bansa Atjèh akan meutamah-tamah lom.
 
Dalam karangannjan djituléh bahwa basa Atjèh kon ‘ôh ka ”primitif” mantong, teutapi leubèh ”primitif” lom lom nibak basa2 sukèë2 bansa Afrika. Djadi geutanjoë Atjèh ka djidjak peubandéng deungon sukéë2 bansa Afrika dan lheuëhnjan djipeuduëk lom dimijuëb awak njang mantong siteungoh hana meu adabnjan. Kheuën djih: ”Banjak bahasa2 lokal jang digunakan suku2 bangsa di Afrika, hampir sama primitifnya dengan bahasa Aceh”. Djadi basa Atjèh leubèëh primitif lom, dimijuëb nibak basa2 primitif Afrika njang laén, meunurôt professor bangai njoë. Kamoë nibak Angkatan Atjèh Meurdéhka peureulèë meuturi professor Amerika njoë mangat djeuët kamoë rhah ulèëdjih deungon èleuméë anthropology, philology dan cultural anthropology njang beutôi2 supaja djih bèk lé djidjak peungeuët ureuëng2 Atjéh njang ka Djawa peubangai. Keu Ismail Husin kamoë lakèë supaja geukirém alamat dan nan djih keu Madjeulih Susôn AGAM di Sweden.. Ureuëng2 aséng njan peureulèë djimeurumpok deungon ureuëng2 ATJÈH MEURDÉHKA bak abad njoë dan handjeuët djidjak tuléh/peugah sapeuë peukara hai Atjèh deungon peutunjok nibak sipa-i Djawa dan djaroë gakidjih.
Njoë pat na saboh ibarat keu geutanjoë bansa Atjéh mandum: ibarat njoë tangui keu alat mangat ridjang ta pham makna nibak peukara/masaalahnjoë dan bahthatpih tangui nan Ismail Husin (sabab gobnjan njang po karangan) kon tadjak peusalah gobnjan sidroë khong sabab ramè lagèëna laén njang mantong seumiké lagèënjan tjit. Dalam hai njoë na tjit djasa Ismail Husin sabab uléh gobnjan ka geupeudeuh saboh peunjakét hingga ka djeuët ta peu-ubat. Peunjakét njan njoë: Ismail Husin ka geudjôk tubôgeuh, basageuh, agamageuh, adatgeuh, reusamgeuh, bandum djitimang lé kaphé, deungon tjéng nibak kaphé njan, dan keuneulheuëh ka geuteurimong jum gobnjan njang djibôh lé kaphé njan. Jum njang djibôh njan nakeuh: si keuëh (”primitif”). Sikap gobnjan salah that. Hana geuteupeuë bahwa saboh2 bansa handjeuët sagai2 djak juë timang droë bak bansa laén. Saboh2 bansa handjeuët teurimong dji-tjéng uléh bansa laén, peuë lom dalam tjéng djih. Saboh2 bansa handjeuët teurimong djibôh juëm lé bansa luwa, bôh Djawa atawa Beulanda, atawa Amerika. Soëtjit njang djeuët bôh juëm geutanjoë? HANA LAÈN NIBAK DROËTEUH. GEUTANJOË ATJÈH KEUDROË.
 
"Watèë ureuëng Atjèh geutém teurimong djipeu-ék/peutren jum-geuh uléh sipa-i Djawa bak thôn 1945, maka uroënjankeuh mulai phôn peundjadjahan sipa-i Djawa ateuëh bansa Atjèh. Hingga djinoë bansa geutanjoë ka djipeugah ”sukèë” nibak bansadjih (na’uzubillah) dan naggroë geutanjoë ka djipeugah ”daerah” nibak naggroëdjih (na’uzubillah) dan njang djeuheuët that lom ka le ureuëng geutanjoë njang ka maté urat saraf, njakni handjeuët seumiké lé, ka geuteurimong haba2 njang bateuë dan kon2 njan. Bansa geutanjoë ka keumah djidjadjah pikéran, budaja, leubèëh dilèë jôhgohlom keumah djidjadjah dalam politék. "
 
Watèë ureuëng Atjèh geutém teurimong djipeu-ék/peutren jum-geuh uléh sipa-i Djawa bak thôn 1945, maka uroënjankeuh mulai phôn peundjadjahan sipa-i Djawa ateuëh bansa Atjèh. Hingga djinoë bansa geutanjoë ka djipeugah ”sukèë” nibak bansadjih (na’uzubillah) dan naggroë geutanjoë ka djipeugah ”daerah” nibak naggroëdjih (na’uzubillah) dan njang djeuheuët that lom ka le ureuëng geutanjoë njang ka maté urat saraf, njakni handjeuët seumiké lé, ka geuteurimong haba2 njang bateuë dan kon2 njan. Bansa geutanjoë ka keumah djidjadjah pikéran, budaja, leubèëh dilèë jôhgohlom keumah djidjadjah dalam politék. Lheuëh siplôh thôn geutanjoë Peunjata Atjèh Meurdéhka keulai mantong tjit ureuëng2 njang teumuléh dan peuteubiët karangan2 njang djeuët keu masaalah nibak tulésan njoë. Njoënakeuh saboh tanda bahwa peunjakét inferiority complex mantong meuradjalèla dalam tubôh bansa Atjèh. Peunjakét njoë wadjéb geutanjoë peu-ubat beu bagaih, deungon meurunoë èleumèë njang beutôi nibak seudjarah Atjèh, tamaddun Atjèh, njang bandum kalheuëh na meutuléh dalam kitab2 njang geupeuteubiët uléh ANGKATAN ATJÈH MEURDÈHKA dalam masa 10 thôn njang akhé2 njoë.
Uléh sipa-i Djawa ramè djigadji ”professor” Eropa dan Amerika sibagoë tôkkang propaganda ideologi peundjadjahan indonesia/djawa njang djijuë djak meungadjar bak ”sikula2 tinggi” Djawa mangat ridjang geutanjoë teurimong peuë njang sipa-i Djawa peugah. Sang2 ideologi sipa-i ka dônja angkèë. ”Professor” agent Djawanjoë nakeuh lagéë Hjort dari Norway, William Liddle, Amerika, dan meuplôh njang laén. Awak njoë djimeututô pura2 ateuh nan ilmiah padahai peuë njang djih peugah njan nakeuh propaganda sipa-i Djawa mantong, dan kon ateuëh neuduëk èleumèë. Geutanjoë ureuëng2 ATJÈH MEURDÈHKA sabé keumaih bak tameuhôdjdjah ngon djih dalam sigala èleumèë dan dalam sigala basa. Lagèë si Hjort dari Norway kalheuëh djimeuhôdjdjah deungon geutanjoë AM diluwa naggroë dan kalheuëh djilakèë meu’ah, teutapi lheuëhnjan katrôih awak Atjéh njang njang ka Djawa rhah ulèë lagèë Fachri Ali njang ka djak sipreuëk haba si Hjort dalam nanggroë bak ureuëng Atjéh laén rot surat2 haba Djawa dan djidjak peugah ANGKATAN ATJÈH MEURDÈHKA ka gagal. Kamoë keumeuëng ngiëng muka Fachri Ali njoë njang djak tuléh bahwa Angkatan Atjèh Meurdéhka ka ”gagal”. Atawa djih njan kon bansa Atjèh? Sabab djitumuléh lagèë sidroë peunonton njang hana beuheuëk dalam peurdjuangannjoë, dan djidjak ngiëng masaalah geutanjoë Atjèh rot katjamata ureuëng2 aséng njang hana teupeuë sapeuë, dan njan bandum djisangka ateuëh neuduëk ilmiah, padahai kon sagai2 teutapi djih hana djiteupeuë sapeuë. Djameun, Snouck Huurgronje njang djak sidék bansa Atjéh keu keupeunténgan politék dan militer Beulanda. Buët Huurgronje hana laén nibak buët mata2, kon buët èleumèë: teutapi djipropaganda sibagoë buët èleumèë mangat le ureuëng peutjaja dan haba2 intelligence anti Atjèh djipeugah haba ilmiah. Djinoë ramè lagèëna Huurgronje barô njang djigadji uléh sipa-i Djawa.
 
Soëtjit njang djeuët dan patôt bôh juëm ateuëh geutanjoë? Sigo tereuëk: hana laén nibak droëteuh. Geutanjoë bansa Atjèh keudroë. handjeuët sagai2 bansa gob. Lagèë kheuën Nietzsche, filosof Djerman: ”Hana saboh bansa djeuët djihudép meunjoë hana djipeumulia droëdjih leubèëh dilèë.” Djeuëb bansa pajah djimeurunoë peumulia droë. Meukon meunan hana keumah djihudéb meurdéhka, teutapi djeuët keu lamiët nibak bansa laén, njankeuh djadjahan. Padum tabôh juëm bansa Atjèh njoë? Meunjoë ta tanjong bak Beulanda atawa Djawa maka hana djibôh juëm meusisèn: padum na ka bansa Atjéh, inong-agam, tuha-muda, njang ka djitimbak dan djiélanja hana meupeuë-sapeuë dan deungon hana djipadôli? Padum tabôh juëm bansa Atjèh njoë? Dimasa éndatu dan bak masa droëneuhnjan hudéb ka geupeuleumah : hana soë ék bôh juëm keumuliaan bansa Atjèhnjoë, hana séb pèng dalam dônja keu juëm geutanjoë, dan han ta tém peubloë bansa/nanggroë/keumuliaan/keumeurdékaan geutanjoë keu bansa2 laén: leubèh got ta maté sjahid nibak ta peubloë droë keulamiët/ djadjahan gob. Sabab dumnan neupeumulia droë/bansa/neugara-keuh maka éndatu geutanjoë ka neupiléh maté sjahid nibak djak-djôk droë bak Beulanda. Njoëkeuh njang wadjéb geutanjoë peulaku uroë njoë, djinoë. Njoëkeuh tjita2 ANGKTAN ATJÈH MEURDÉHKA:
 
Kheuën Nietzsche lom: ”Peumulia, njan maknadjih peudong, peukong.” Watèë hana ta peumulia, njan maknadjih ka ta reuloh dan tapeugadoh. Watèë simbôl2 bansa dan neugarateuh hana tamulia lé, lagèë Bandéra, Uroë2 Raja Neugara dan Hukôm, maka bansa2 lagèënjan han keumah meurdéhka lé dan akan didjadjah lé bansa teuka, lagèë Atjèh djinoë ka djidjadjah lé sipa-i Djawa.
 
Geukheuën lom uléh Nietzsche: ”Meunjoë saboh2 bansa djikeumeuëng peuseulamat droë bèk gadoh/talô ateuëh rhuëng dônja maka handjeuët sagai2 djidjak tirèë2 upatjara keumuliaan njang djipeugot uléh bansa2 laén njang djirandjih.” Geutanjoë Atjèh handjeuët sagai tadjak tirèë upatjara Djawa, atawa Beulanda, atawa bansa2 laén. Geutanjoë wadjéb ta seutot dan tapeulara adat, reusam, pusaka nibak éndatu turôn-tumurôn lagéë tjara droëteuh. Njoënakeuh rahasia nibak keumeurdéhkaan dan nibak bansa2 njang ka ék peutheuën keumeurdéhkaandjih nibak pakon ka ék djipeuteheuën droëdjihnjan. Peuë njang djipandang djroh uléh saboh bansa hana peureulèë djipandang djroh uléh bansa njang laén. Keuneuleuëh njang meunang njankeuh njang tém peutheuën adat-reusam droë; njang talô njang djak sutot2 gob laén. Njankeuh sabab geutanjoë wadjéb tagisa bak agama Atjèh, bak adat Atjèh, bak reusam Atjèh. ”Primitif” djipeugah? Djih njan peugahnjan njang primitif - bak mata geutanjoë Atjèh dan njankeuh Hukôm di Nanggroë Atjèh.
 
Peuë njang djipeugot uléh bansa gob nakeuh keu keupeunténgan bansadjihnjan, kon keupeunténgan bansa geutanjoë. Seunipatdjih, tjéng-djih, njan bandum handjeuët tangui meunan2 mantong uléh geutanjoë. Peuë njang djipeugah ”èleumèë” (scientific) njan kon musti njoe meunan. Bansa2 Barat djidjak meurampok bansaboh dônja trôk u Nanggroë Atjèh teutapi buët djihnjan hantom djibôh nan meurampok: djih bôh nan ”mission civilisatrice” (djidjak bri adab keu ureuëng2 primitif); dan buëtnjan djingiëng nakeuh ”white man’s burden” (tanggông djaweuëb bansa putéh) dan njan bandum djipeugah deungon alasan2 njang djih peunan ilmiah (scientific). Teuma, peuë njan tadjak deungo dan tadjak peu-njo? Buët ”professor Amerika” Ismail Husin nakeuh dalam hôn buët seumeungeuët njoë, sabab hana alasan2 ilmiah njang ék peudong propagandadjih di Djawanjan njang meutudjuan peuhina bansa Atjèh dan peutamah inferiority complex bansa Atjèh supaja mudah djidjadjah lé bandét2 Djawa.
 
Le that peuë lom keusalahan dalam karangan Ismail Husin njang pajah tapeukon. Lagèë geudjak peubandéng basa Atjéh - saboh basa njang ka Tuhan peudjeuët - deungon basa ”indunisia” - hana bansa, hana nanggroë, hana basa - bahthatpih geutanjoë teupeuë njang djimeukeusud basa Meulaju - basa njang na Tuhan peudjeuët lagèë basa Atjèhtjit - teutapi ka djipeutamong dalam karanga Ismail Husin dalam basa Grik njang hana meusangkôt sapeuë deungon Dônja Meulaju dan basa Meulaju. Bandum ”lelutjon” njoë ka djipeugot mangat peubeuna peundjadjahan sipa-i Djawa ateuëh bansa2 dan pulo2 lua Djawa, demi kepenténgan peundjadjahan Djawa: mangat djeuët djibri keusan keu dônja luwa njang hana teupeuë sapeuë sang2 keubit na ”bansa indonesia” deungon ka na ”basa indonesia” - padahai njoë mandum meuneu’èn sung-glap sipa-i Djawa mangat djeuët djipeungeuët awak Eropa/Amerika njang djeu-ôh lagoina, teutapi pakriban djeuët djidjak pengeuët geutanjoë disinoë di Dônja Meulaju njang toë, njang teupeuë hana ”basa indonesia”njan, njang na njankeuh basa Meulaju, njang na hubôngan deungon basa Atjèh. Seudang basa Djawa keudroëdjih hana hubôngan sapeuë deungon basa Atjéh. Uléh sipeundjadjah Djawa ka dji-ubah nan basa Meulaju djeuët keu ”basa indoensia” mangat djeuët djipeutoë-toë droë djih deungon geutanjoë. Bèk deuh that peundjadjahandjih. Padahai geutanjoë bansa Atjèh dan bansa2 Meulaju njang laén hana tateupeuë meusikrèk basa Djawa haramdjah tjilakanjan. Deungon djidjak bôh nan basa Meulaju sibagoë ”basa indonesia”, Ismail Husin hana sadar ka djidjak bantu peudong peundjadjahan Djawa ateuëh bansa droë. Peukara na kata2 panjang dan kata2 paneuk dalam saboh2 basa, njan na saboh hai njang biasa njang geupham dalam èleumèë philology dan linguistics.
 
Ismail Husin geutôp karangan deungon naritnjoë: ”Sayapun, melalui Professor ahli bahasa ini, lebih mengenal karakteristik bahasa ibu saya.” Deungon narit laén geumeungaku gobnjan hana geuturi sipheuët2 basa ureuëngtjhik inong-geuh njang peulahé gobnjan dan geupiëp-mom-geuh, lagèë geutanjoë mandum tjit, njang dumnan toë, lahé ngon batén deungon gobnjan, jôhgohlom djipeuraba lé ”Professor ahli” dari amerika, njang duëk diblahdéh dônja, njang hana djipham basa Atjèh, njang hantom djidjak u Atjèh. Masya Allah. Keu ureuëng2 lagéë gobnjan, peuë njang djipeugah lé ureuëng luwa, njang kon Atjèh, peuë lom Amerika, njan dumpeuë ka njo bahthatpih njang kon-kon. Talakèë do’a beuridjang puléh peunjakét inferiority complex nibak gobnjan.

Bèk Sagai Ta Boih Basa

Uléh: Zard Atjèh
Salam'alaikôm Tengku ngon Tjut Njak.
Beurangho tadjak bèk ta boih basa.
Basa geutanjoë saboh amanat.
Sinan keuh ummat djituri bansa
Meungnjo basa hana ta pakoë.
Pané hai adoë tanjoë mulia.
Hana djituri lé ureuëng nanggroë.
Pané djipakoë lé bansa dônja
 
Beuthat ka tadjak u luwa nanggroë.
Sagai bèk tuwo keu basa Poma.
Peureunoë bagaih keu aneuk droë.
Bèk sampoë laloë ngon bansa luwa
 
Ta eu di Tjina ka tréb meuranto.
Meu aneuk tjutjo bansaboh dônja.
Meungnjo di marit deungon kawôm droë.
Han sagai tuwo basa Tjhèng-tjhong-wa

Di Tengku Atjèh laén lom bagoë
Barô meuranto 'èt kuta Langsa
Keu basa Atjèh hana lé pakoë
Ladju ka tuwo keu basa Poma
 
Peureunoë aneuk basa meulaju
Ladôm djidjampu ngon basa Djawa.
'Oh woë u gampông meusangak-sangak.
Lèh panè sinjak modèrèn raja
Watèë geumarit basa meulaju
Peuleumah bak Du na rasa bangga.
Keu basa Atjèh tjit hana muphôm.
Ka tréb meuthôn-thôn di kuta Langsa
 
Bak watèë ta eu, gli dalam haté
Sang gob hana lé njang djeuët mu-basa.
Sang gobnjan mantong tjarong peulaku.
Habéh ngon-ngon buë ka basa Djawa
 
Wahé e tjutkak lôn peugah mantong.
Djinoë ta peukong basa ibunda.
Peureunoë aneuk njan basa Atjèh.
Sinan that leubèh kaja budaja
 
Basa Atjèh tréb that ka meugah
Abad keu namblaih ka djithèë lé dônja.
Djeuët ta kalon dalam sedjarah.
Got meukeubah lam museum Beulanda
 
'Èt noë keuh dilèë wahé e rakan
Batjut bahasan keu hai basa
Beuthat di ulôn handjeuët keumarang.
Lôn tjuba rakan rangkaian kata
 
Alèh na beutôi alèh pih salah
Narit lôn peugah asai meukana
Meu'aih rakan droë keu ulôntuan
Alèh panè djan ta sambông teuma
 

Sunday, 28 November 2010

 
“Walau hanya seminggu, Bireuen pernah menjadi ibukota RI yang ketiga setelah Yogyakarta jatuh ketangan penjajah dalam agresi kedua Belanda. Namun sayangnya fakta sejarah itu tidak tercatat dalam sejarah Kemerdekaan RI. Sebuah benang merah sejarah yang terputus.”
Sekilas, tidak ada yang terlalu istimewa di Pendopo Bupati Kabupaten Bireuen tersebut. Hanya sebuah bangunan semi permanen yang berarsitektur rumah adat Aceh. Namun siapa nyana, dibalik bangunan tua itu tersimpan sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Malah, di sana pernah menjadi tempat pengasingan presiden Soekarno.
Tugu Batee Kureng
Kedatangan presiden pertama RI itu ke Bireuen memang sangat fenomenal. Waktu itu, tahun 1948, Belanda melancarkan agresi keduanya terhadap Yogyakarta. Dalam waktu sekejap ibukota RI kedua itu jatuh dan dikuasai Belanda. Presiden pertama Soekarno yang ketika itu berdomisili dan mengendalikan pemerintahan di sana pun harus kalang kabut. Tidak ada pilihan lain, presiden Soekarno terpaksa mengasingkan diri ke Aceh. Tepatnya di Bireuen, yang relatif aman. Soekarno hijrah ke Bireuen dengan menumpang pesawat udara Dakota. Pesawat udara khusus yang dipiloti Teuku Iskandar itu, mendarat dengan mulus di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada Juni 1948.
Kedatangan rombongan presiden di sambut Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh, atau yang akrab disapa Abu Daud Beureueh, Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat. Tidak ketinggalan anak-anak Sekolah Rakyat (SR) juga ikut menyambut kedatangan presiden sekaligus PanglimaTertinggi Militer itu.
Malam harinya di lapangan terbang Cot Gapu diselenggarakan Leising (rapat umum) akbar. Presiden Soekarno dengan ciri khasnya, berpidato berapi-api, membakar semangat juang rakyat di Keresidenan Bireuen yang membludak lapangan terbang Cot Gapu. Masyarakat Bireuen sangat bangga dan berbahagia sekali dapat bertemu mukadan mendengar langsung pidato presiden Soekarno tentang agresi Belanda 1947-1948 yang telah menguasai kembali Sumatera Timur (Sumatera Utara) sekarang.
Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen aktivitas Republik dipusatkan di Bireuen. Dia menginap dan mengendalikan pemerintahan RI di rumah kediaman Kolonel Hussein Joesoef, Panglima Divisi X Komandemen Sumatera, Langkat dan tanah Karo, di Kantor Divisi X (Pendopo Bupati Bireuen sekarang). Jelasnya, dalam keadaan darurat, Bireuen pernah menjadi ibukota RI ketiga, setelah jatuhnya Yogyakarta ke dalam kekuasaan Belanda. Sayangnya catatan sejarah ini tidak pernah tersurat dalam sejarah kemerdekaan RI.
Meuligoe Bireuen
Memang diakui atau tidak, peran dan pengorbanan rakyat Aceh atau Bireuen pada khususnya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Perjalanan sejarah membuktikannya. Di zaman Revolusi 1945, kemiliteran Aceh dipusatkan di Bireuen.Di bawah Divisi X Komandemen Sumatera Langkat dan Tanah Karo dibawah pimpinan Panglima Kolonel Hussein Joesoef berkedudukan di Bireuen. Pendopo Bupati Bireuen sekarang adalah sebagai kantor Divisi X dan rumah kediaman Panglima Kolonel Hussein Joesoef. Waktu itu Bireuen dijadikan sebagai pusat perjuangan dalam menghadapi setiap serangan musuh. Karena itu pula sampai sekarang, Bireuen mendapat julukan sebagai “Kota Juang”.
Kemiliteran Aceh yang sebelumnya di Kutaradja, kemudian dipusatkan di Juli Keude Dua (Sekitar tiga kilometer jaraknya sebelah selatan Bireuen-red) di bawah Komando Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, yang membawahi Komandemen Sumatera, Langkat dan Tanah Karo. Dipilihnya Bireuen sebagai pusat kemiliteran Aceh, lantaran letaknya yang sangat strategis dalam mengatur strategi militer untuk memblokade serangan Belanda di Medan Area yang telah menguasai Sumatera Timur.
Pasukan tempur Divisi X Komandemen Sumatera yang bermarkas di Juli Keudee Dua, Bireuen, itu silih berganti dikirim ke Medan Area. Termasuk diantaranya pasukan tank dibawah pimpinan Letnan Yusuf Ahmad, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Letnan Yusuf Tank. Sekarang dia sudah Purnawirawan dan bertempat tinggal di Juli Keude Dua, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Menurut Yusuf Tank, waktu itu pasukan Divisi X mempunyai puluhan unit mobil tank. Peralatan perang itu merupakan hasil rampasantank tentara Jepang yang bermarkas di Juli Keude Dua.
Dengan tank-tank itulah pasukan Divisi X mempertahankan Republik ini di Medan Area pada masa agresi Belanda pertama dan kedua tahun 1947-1948. Juli Keude Dua juga memiliki nilai historis kemiliteran penting dalam mempertahakan Republik. Terutama di zaman Revolusi 1945. Pendidikan Perwira Militer (Vandrecht), yakni untuk mendidik perwira-perwira yang tangguh di pusatkan di Juli Keude Dua.
Tugu Radio Rimba Raya
Kendati usianya sudah uzur, Yusuf Tank masih dapat mengingat berbagai semua peristiwa sukaduka perjuangannya masa silam. Salah satu diantaranya tentang peranan Radio Rimba Raya milik DivisiX Komandemen Sumatera yang mengudara ke seluruh dunia dalam enam bahasa, Indonesia, Inggris, Urdu, Cina, belanda dan bahasa Arab. Dikatakan, “Radio Rimba Raya mengudara ke seluruh dunia 20 Desember 1948 untuk memblokade siaran propaganda Radio Hervenzent Belanda di Batavia yang yang menyiarkan bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Dalam siaran bohong Radio Belanda seluruh wilayah nusantara sudah habis dikuasai Belanda. Padahal, Aceh masih tetap utuh dan tak pernah berhasil dikuasai Belanda.
Bukti Prasasti Radio Rimba Raya (Klik untuk Memperbesar)
Bukti Prasasti Radio Rimba Raya (Klik untuk Memperbesar)
Dengan mengudaranya Radio Rimba Raya ke seluruh dunia, masyarakat dunia sudah mengetahui secara jelas bahwa Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Karena itu, saat kedatangan Presiden Soekarno ke Bireuen bulan Juni 1948, dalam pidatonya yang berapi-api di lapangan terbang Cot Gapu, Soekarno mengatakan, Aceh yang tidak mampu dikuasai Belanda dijadikan sebagai Daerah Modal Republik Indonesia. Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen, kemudian bersama Gubernur Militer Aceh Abu Daud Beureueh berangkat ke Kutaradja (Banda Aceh). Di Kutaradja Gubernur Milter Aceh mengundang seluruh saudagar Aceh di hotel Aceh. Dia menyampaikan permintaan Presiden Soekarno agar rakyat Aceh menyumbang dua pesawat terbang untuk Republik.
Pesawat Seulawah I
Presiden Soekarno sempat mogok makan siang alias Ngambek sebelum Abu Beureu’eh memberi jawaban, menyetujui permintaannya itu agar Aceh menyumbang dua pesawat terbang. Kesepakatan para saudagarAceh dengan Abu Daud Beureu’eh, mereka bersedia menyumbang dua pesawat terbang untuk Republik. Dengan sumber dana obligasi rakyat Aceh, yakni Pesawat Seulawah I dan Seulawah II. Kedua pesawat terbang sumbangan rakyat Aceh itu adalah sebagai cikal bakal pesawat Garuda Indonesia Airways saat ini. Sedangkan Radio Rimba Raya adalah sebagai cikal bakal Radio RRI sekarang. ***

Saturday, 27 November 2010

UNTONG NA ACHEH TINGGAI SITANGKEE DAK MEUDEH TAN LEE INDONESIA

ACEH SEURAMOE MEKKAH,,,,

NANGGROE ACEH DARUSSALAM

MASJID BAITURRAHMAN-ACEH

Berlibur kemana tahun ini ?Jalur Luar Negeri pasti mahal tetapi sekali-kali liburan ke wilayah Domestik boleh juga. Tidak harus dengan kawan dekat. Merencanakan pergi ke suatu tempat bisa dengan rekan sekerja yang punya hobby sama. Kami mengambil Cuti kantor rame-rame dan memutuskan untuk ke Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk hari pertama ini tujuan kami adalah ke Masjid Baiturrahman.Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Cut Nya Dhien
Sekilas tentang Nanggroe Aceh Darussalam

Nanggroe Aceh Darussalam sebagai pusat penyebaran agama Islam. Aceh Darussalam berlokasi di daerah hulu pulau Sumatra atau ujung pantai Aceh yang disebut Aceh Besar (Aceh Rayeuk). Bahasa Aceh adalah Bahasa Gayo.Masyarakatnya terbagi dua yaitu golongan ulama (Tengku) dan golongan bangsawan (Teuku)

Nanggroe, sistem pemerintahan setingkat kenegerian/kabupaten. Nama Aceh berasal dari nama terompah Aceh yang berbentuk segitiga atau dikenal dengan sebutan jeuce. Darussalam = Tanah Damai.Dalam empat tahun ini Aceh masih terus melakukan pembangunan dari musibah gempa Tsunami yang menghanyutkan hampir separuh Aceh.

TOUR TSUNAMI


Ini adalah tempat pemakaman massal kurban Tsunami
Hari ke dua waktu sudah menunjukkan pukul 13.15 WIB kami keluar dari Gapang dan meninggalkan mess pukul 14.3o menuju pelabuhan Balohan mengejar Km kembali ke Ulee Lheu pukul 15.3o. Special hari Minggu di pelabuhan Ulee Lhue berjejer penjaja-2 jagung bakar. Selepas pulang dari Pulau Weh, kami melewati pemandangan yang menakjubkan. Bayangkan Mihrab Imam terdampar dipinggir laut terbawa arus Tsunami sedangkan bangunan lainnya sudah tidak nampak. Hari ke Tiga wisata Tsunami Educational Park, dimana kapal apung PLTD seberat 3.600 Ton dihempas gelombang Tsunami sejauh 4 km. Kapal besar ditengah komplek ini sangat membantu mendapatkan gambaran betapa dahsyatnya Tsunami pada waktu itu. Pada gempa bumi dahsyat di samudra Hindia yang berkekuatan 9.3 Richter juga menghempaskan sebuah kapal dan terdampar di perumahan penduduk di Kawasan Gampong Lampulo. Peristiwa ini akhirnya dipertahankan sebagai obyek wisata untuk pengingat bencana dahsyat tersebut.
Perahu ini nangkring di atap rumah penduduk karena terhempas badai Tsunami

Melanjutkan target perburuan, ga jauh dari Masjid Raya Baiturrahman k.l 3 Km kita temui museum. Induk museum ini adalah sebuah rumah tradisional Aceh. Konon waktu itu dipake untuk Gelanggang Pameran di Jawa Tengah yang akhirnya dibawa kompeni Belanda ke Aceh. Dalam museum terdapat ruang pamer yang berisi macam-macam benda purbakala Cut Nya Dien yang ditata dengan baik. Kalau kita naik ke lantai dua kita temui ruang Tikado yaitu ruang makan dengan duduk bersila, Foto-foto para pejuang dan para sastrawan Aceh, perlengkapan kebutuhan sehari-hari seperti perlengkapan dapur jaman dulu dan ayunan untuk menidurkan bayi yang sampai sekarang masih suka ditiru oleh masyarakat. Salah satu koleksi museum yang paling berharga adalah Lonceng “Cakra Donya” yaitu lonceng besar hadiah dari laksamana Zheng He sang pelaut Tiongkok untuk Sultan Aceh. Cakra Donya sama dengan nama kapal perang Sultan Iskandar Muda yang digunakan dalam penyerbuan terhadap Portugis di Malaka. Gitu dch.

Balai Pertemuan yang berdekatan dengan Museum Aceh

Lonceng Cakra Donya



Saat berkunjung ke Balai Pelestarian peninggalan Purbakala ini kami tidak sempat masuk ke dalam ruangan karena sedikitnya waktu sehingga amat terburu-buru. Di dalam lokasi ini kami sempat menabadikan salah satu lokasi dimana mencerminkan seorang putri Phang dari Pahang yang menyukai bermain di bukit. Bukit ini bukan asli melainkan dibuat dengan sengaja sebagai pengingat.


Gunongan. Gunongan Letaknya di tengah kota, salah satu peninggalan dari Sultan Iskandar Muda untuk cintanya, Permaisuri Putri Phang dari Pahang-Malaysia. Bentuknya sih hanya bangunan seperti bukit-bukit. Kami foto sama teman-teman dibawah terik matahari. Panas sekali udaranya. Setelah dari Gunongan kami keliling lagi dengan beca motor menuju Kerkhoff. Pilihan jalan-jalan selain menggunakan beca motor bisa juga menggunakan labi-labi (istilah angkutan kota).

Ini Kerkkhoff Adalah sebuah tempat Pekuburan Belanda. Ceritanya dulu, rakyat Aceh diserang Kompeni, dengan harta dan nyawanya rakyat Aceh berhasil membunuh Jendral Kerkhoff ini (matinya jenderal ini di bawah pohon Gelumpang letaknya disamping kiri masjid Baiturrahman-Aceh). Di pekuburan Belanda ini ada sekitar dua ribuan orang kompeni. Sayang yah, Indonesia masih sering kurang memperhatikan hal-hal seperti ini. Belanda aja punya lokasi pekuburan massal. Rapi dan bersih lagi. Apa karena tidak terhitung berapa jumlah rakyat Aceh yang membela/mempertahankan setiap jengkal tanah airnya…?

Ini namanya Pohon Gelumpang, saksi hidup rakyat Aceh melawan Belanda, pohon ini terdapat di dalam area Masdjid Baiturrahman dan juga Batu Peringatannya yang tidak jauh dari pohon tersebut.

Dengan beca motor yang sama, kami menuju Monumen RI –OO1. Letaknya di jantung kota di Seulawah satu area dengan Tugu Seulawah.

Tugu Seulawah dan Pesawat RI-001Untuk menembus blokade si penjajah Belanda, Indonesia perlu sebuah pesawat terbang. Eh, pesawat terbang pertama ini hasilnya dari masyarakat Aceh mengumpulkan dananya untuk membeli. Tempat Monumen RI ini di jantung kota Aceh dilapangan Seulawah depan kantor RRI. Bangunan peninggalan pemerintah Belanda pasti sudah kelihatan ciri khasnya, kokoh, besar, tinggi dan kuat.

Wisata ke Pendopo yaitu bekas Istana Kerajaan Aceh yang diperuntukkan Gubernur Belanda dan sekarang ditempati Gubernur Aceh. Area sekitar Pendopo ada Kandang Meuh dan beberapa makam yang tampak sangat tua. Daily tour yang kami rencanakan ini sangat padat. Pulang ke base camp kalau hari sudah gelap. Siang masih di hari ketiga, menuju Ulee Lhue melewati perumahan Phaya Lhok, sebuah kompleks perumahan bantuan asing (Turkey) di jalan R Tayyib Erdogan Caddesi.
Kunjungan terakhir kami ke Taman Sari, tempat ini dijadikan sebagai ajang lokasi dakwah Muslem pada acara lomba dakwah oleh perusahaan seluruh Divisi Regional Telekomunikasi Indonesia.

Setelah berputar-putar dalam kota, selanjutnya menyisir pantai. Dua pantai di Aceh ini saling berdekatan yaitu pantai Lhok Ngaa dan pantai Lampuuk (dibaca Lampu-uk) setelah itu baru ke museum Tjut Nya Dien. Perjalanan ketempat wisata di Aceh cenderung sangat dekat, hanya 1 jam saja sudah bisa seharian langsung mendapatkan obyek buruan. Disini kami melongok dua pantai yang saling berdekatan yang berbeda jarak hanya 15 menitan.

LaMpuUk bEacH

Lhok Nga Beach

Kalau kita mau ke arah luar pulang dari pantai akan kita temui tempat ibadah orang Muslem. Masjid ini adalah Masjid Rahmatullah, adalah salah satu masjid yang didirikan dengan bantuan asing oleh masyarakat Turkish demikian juga gedung-gedung sekolah atau perumahan-perumahan yand ada disekitar Lampuuk dalam tempo dua ratus hari kalender.
Masjid Rahmatullah (tampak depan)

Rahmatullah Camii (tampak samping)
Jalan-jalan ke Aceh belum afdol kalau belum mencicipi makanan khasnya seperti Mie Aceh yang terkenal ini, Mie Rajali. Kami sempat datang langsung ke rumah makannya dan memesan bebrapa mie dengan rasa yang berbeda-beda. Ada mie Rajali Kepiting, daging dan rasa biasa. Smua yang disajikan membuat lidah bergoyang.

Lokasi : Mie Rajali

Friday, 26 November 2010

Resistor adalah komponen elektronik dua saluran yang didesain untuk menahan arus listrik dengan memproduksi penurunan tegangan diantara kedua salurannya sesuai dengan arus yang mengalirinya, berdasarkan hukum Ohm:
\begin{align}V&=IR\\
I&=\frac{V}{R}\end{align}
Resistor digunakan sebagai bagian dari jejaring elektronik dan sirkuit elektronik, dan merupakan salah satu komponen yang paling sering digunakan. Resistor dapat dibuat dari bermacam-macam kompon dan film, bahkan kawat resistansi (kawat yang dibuat dari paduan resistivitas tinggi seperti nikel-kromium).
Karakteristik utama dari resistor adalah resistansinya dan daya listrik yang dapat diboroskan. Karakteristik lain termasuk koefisien suhu, desah listrik, dan induktansi.
Resistor dapat diintegrasikan kedalam sirkuit hibrida dan papan sirkuit cetak, bahkan sirkuit terpadu. Ukuran dan letak kaki bergantung pada desain sirkuit, resistor harus cukup besar secara fisik agar tidak menjadi terlalu panas saat memboroskan daya.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Satuan

Ohm (simbol: Ω) adalah satuan SI untuk resistansi listrik, diambil dari nama George Simon Ohm. Biasanya digunakan prefix miliohm, kiloohm dan megaohm.

[sunting] Konstruksi

[sunting] Komposisi karbon

Resistor komposisi karbon terdiri dari sebuah unsur resistif berbentuk tabung dengan kawat atau tutup logam pada kedua ujungnya. Badan resistor dilindungi dengan cat atau plastik. Resistor komposisi karbon lawas mempunyai badan yang tidak terisolasi, kawat penghubung dililitkan disekitar ujung unsur resistif dan kemudian disolder. Resistor yang sudah jadi dicat dengan kode warna dari harganya.
Unsur resistif dibuat dari campuran serbuk karbon dan bahan isolator (biasanya keramik). Resin digunakan untuk melekatkan campuran. Resistansinya ditentukan oleh perbandingan dari serbuk karbon dengan bahan isolator. Resistor komposisi karbon sering digunakan sebelum tahun 1970-an, tetapi sekarang tidak terlalu populer karena resistor jenis lain mempunyai karakteristik yang lebih baik, seperti toleransi, kemandirian terhadap tegangan (resistor komposisi karbon berubah resistansinya jika dikenai tegangan lebih), dan kemandirian terhadap tekanan/regangan. Selain itu, jika resistor menjadi lembab, bahang dari solder dapat mengakibatkan perubahan resistansi yang tak dapat dikembalikan.
Walaupun begitu, resistor ini sangat reliabel jika tidak pernah diberikan tegangan lebih ataupun panas lebih.
Resistor ini masih diproduksi, tetapi relatif cukup mahal. Resistansinya berkisar antara beberapa miliohm hingga 22 MOhm.

[sunting] Film karbon

Selapis film karbon diendapkan pada selapis substrat isolator, dan potongan memilin dibuat untuk membentuk jalur resistif panjang dan sempit. Dengan mengubah lebar potongan jalur, ditambah dengan resistivitas karbon (antara 9 hingga 40 µΩ-cm) dapat memberikan resistansi yang lebar[1]. Resistor film karbon memberikan rating daya antara 1/6 W hingga 5 W pada 70 °C. Resistansi tersedia antara 1 ohm hingga 10 MOhm. Resistor film karbon dapat bekerja pada suhu diantara -55 °C hingga 155 °C. Ini mempunyai tegangan kerja maksimum 200 hingga 600 volt[2].

[sunting] Film logam

Unsur resistif utama dari resistor foil adalah sebuah foil logam paduan khusus setebal beberapa mikrometer.
Resistor foil merupakan resistor dengan presisi dan stabilitas terbaik. Salah satu parameter penting yang mempengaruhi stabilitas adalah koefisien temperatur dari resistansi (TCR). TCR dari resistor foil sangat rendah. Resistor foil ultra presisi mempunyai TCR sebesar 0.14ppm/°C, toleransi ±0.005%, stabilitas jangka panjang 25ppm/tahun, 50ppm/3 tahun, stabilitas beban 0.03%/2000 jam, EMF kalor 0.1μvolt/°C, desah -42dB, koefisien tegangan 0.1ppm/V, induktansi 0.08μH, kapasitansi 0.5pF[3].

[sunting] Penandaan resistor

Resistor aksial biasanya menggunakan pola pita warna untuk menunjukkan resistansi. Resistor pasang-permukaan ditandas secara numerik jika cukup besar untuk dapat ditandai, biasanya resistor ukuran kecil yang sekarang digunakan terlalu kecil untuk dapat ditandai. Kemasan biasanya cokelat muda, cokelat, biru, atau hijau, walaupun begitu warna lain juga mungkin, seperti merah tua atau abu-abu.
Resistor awal abad ke-20 biasanya tidak diisolasi, dan dicelupkan ke cat untuk menutupi seluruh badan untuk pengkodean warna. Warna kedua diberikan pada salah satu ujung, dan sebuah titik (atau pita) warna di tengah memberikan digit ketiga. Aturannya adalah "badan, ujung, titik" memberikan urutan dua digit resistansi dan pengali desimal. Toleransi dasarnya adalah ±20%. Resistor dengan toleransi yang lebih rapat menggunakan warna perak (±10%) atau emas (±5%) pada ujung lainnya.

[sunting] Identifikasi empat pita

Identifikasi empat pita adalah skema kode warna yang paling sering digunakan. Ini terdiri dari empat pita warna yang dicetak mengelilingi badan resistor. Dua pita pertama merupakan informasi dua digit harga resistansi, pita ketiga merupakan pengali (jumlah nol yang ditambahkan setelah dua digit resistansi) dan pita keempat merupakan toleransi harga resistansi. Kadang-kadang pita kelima menunjukkan koefisien suhu, tetapi ini harus dibedakan dengan sistem lima warna sejati yang menggunakan tiga digit resistansi.
Sebagai contoh, hijau-biru-kuning-merah adalah 56 x 104Ω = 560 kΩ ± 2%. Deskripsi yang lebih mudah adalah: pita pertama, hijau, mempunyai harga 5 dan pita kedua, biru, mempunyai harga 6, dan keduanya dihitung sebagai 56. Pita ketiga,kuning, mempunyai harga 104, yang menambahkan empat nol di belakang 56, sedangkan pita keempat, merah, merupakan kode untuk toleransi ± 2%, memberikan nilai 560.000Ω pada keakuratan ± 2%.
Warna Pita pertama Pita kedua Pita ketiga
(pengali)
Pita keempat
(toleransi)
Pita kelima
(koefisien suhu)
Hitam 0 0 × 100

Cokelat 1 1 ×101 ± 1% (F) 100 ppm
Merah 2 2 × 102 ± 2% (G) 50 ppm
Oranye 3 3 × 103
15 ppm
Kuning 4 4 × 104
25 ppm
Hijau 5 5 × 105 ± 0.5% (D)
Biru 6 6 × 106 ± 0.25% (C)
Ungu 7 7 × 107 ± 0.1% (B)
Abu-abu 8 8 × 108 ± 0.05% (A)
Putih 9 9 × 109

Emas

× 10-1 ± 5% (J)
Perak

× 10-2 ± 10% (K)
Kosong


± 20% (M)

[sunting] Identifikasi lima pita

Identifikasi lima pita digunakan pada resistor presisi (toleransi 1%, 0.5%, 0.25%, 0.1%), untuk memberikan harga resistansi ketiga. Tiga pita pertama menunjukkan harga resistansi, pita keempat adalah pengali, dan yang kelima adalah toleransi. Resistor lima pita dengan pita keempat berwarna emas atau perak kadang-kadang diabaikan, biasanya pada resistor lawas atau penggunaan khusus. Pita keempat adalah toleransi dan yang kelima adalah koefisien suhu.

[sunting] Resistor pasang-permukaan

Gambar ini menunjukan empat resistor pasang permukaan (komponen pada kiri atas adalah kondensator) termasuk dua resistor nol ohm. Resistor nol ohm sering digunakan daripada lompatan kawat sehingga dapat dipasang dengan mesin pemasang resistor.
Resistor pasang-permukaan dicetak dengan harga numerik dengan kode yang mirip dengan kondensator kecil. Resistor toleransi standar ditandai dengan kode tiga digit, dua pertama menunjukkan dua angka pertama resistansi dan angka ketiga menunjukkan pengali (jumlah nol). Contoh:
"334" = 33 × 10.000 ohm = 330 KOhm
"222" = 22 × 100 ohm = 2,2 KOhm
"473" = 47 × 1,000 ohm = 47 KOhm
"105" = 10 × 100,000 ohm = 1 MOhm
Resistansi kurang dari 100 ohm ditulis: 100, 220, 470. Contoh:
"100" = 10 × 1 ohm = 10 ohm
"220" = 22 × 1 ohm = 22 ohm
Kadang-kadang harga-harga tersebut ditulis "10" atau "22" untuk mencegah kebingungan.
Resistansi kurang dari 10 ohm menggunakan 'R' untuk menunjukkan letak titik desimal. Contoh:
"4R7" = 4.7 ohm
"0R22" = 0.22 ohm
"0R01" = 0.01 ohm
Resistor presisi ditandai dengan kode empat digit. Dimana tiga digit pertama menunjukkan harga resistansi dan digit keempat adalah pengali. Contoh:
"1001" = 100 × 10 ohm = 1 kohm
"4992" = 499 × 100 ohm = 49,9 kohm
"1000" = 100 × 1 ohm = 100 ohm
"000" dan "0000" kadang-kadang muncul bebagai harga untuk resistor nol ohm
Resistor pasang-permukaan saat ini biasanya terlalu kecil untuk ditandai.

[sunting] Penandaan tipe industri

Format:
XX YYYZ
[4]
  • X: kode tipe
  • Y: nilai resistansi
  • Z: toleransi
Rating Daya pada 70 °C
Kode Tipe↓ Rating Daya (Watt)↓ Teknik MIL-R-11↓ Teknik MIL-R-39008↓
BB RC05 RCR05
CB ¼ RC07 RCR07
EB ½ RC20 RCR20
GB 1 RC32 RCR32
HB 2 RC42 RCR42
GM 3 - -
HM 4 - -
Kode Toleransi
Toleransi↓ Teknik Industri↓ Teknik MIL↓
±5% 5 J
±20% 2 M
±10% 1 K
±2% - G
±1% - F
±0.5% - D
±0.25% - C
±0.1% - B
Rentang suhu operasional membedakan komponen kelas komersil, kelas industri dan kelas militer.
  • Kelas komersil: 0 °C hingga 70 °C
  • Kelas industri: −40 °C hingga 85 °C (seringkali −25 °C hingga 85 °C)
  • Kelas militer: −55 °C hingga 125 °C (seringkali -65 °C hingga 275 °C)
  • Kelas standar: -5 °C hingga 60 °C

[sunting] Lihat pula

[sunting] Referensi

  1. ^ Resistivity of Carbon, Amorphous oleh Dana Klavansky, editor Glen Elert. (http://hypertextbook.com/facts/2007/DanaKlavansky.shtml)
  2. ^ Carbon-film resistors: Carbon film resistors feature up to 5W power rating. Globalsources.com. Diakses pada 22 September 2008.
  3. ^ Alpha Electronics Corp.【Metal Foil Resistors】. Alpha-elec.co.jp. Diakses pada 22 September 2008.
  4. ^ Electronics and Communications Simplified by A. K. Maini, 9thEd., Khanna Publications (India)