Wednesday, 5 June 2013

In Memoriam: Hasan Tiro, Bapak Revolusi Aceh

In Memoriam:Hasan Tiro, Bapak Revolusi Aceh

Genap 3 tahun berpulang ke Rahmatullah, Dr Hasan Muhamamd di Tiro. Karena itu, saya ingin mengulas sedikit kembali perjalanan hidup tokoh kontemporer Aceh yang kerap disapa ‘Wali’ ini.

*M. Adli Abdullah (*

MASIH segar dalam ingatan kita, cucu pejuang Aceh Tgk Chik di Tiro Muhammad Saman itu wafat dalam usia 85 tahun pada Kamis, 3 Juni 2010 di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin, Banda Aceh. Lalu pada sore harinya, lawan tangguh enam presiden Indonesia itu dimakamkan di samping kuburan kakeknya, Chik di Tiro di Gampong Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar.

Diakui atau tidak, Hasan Tiro berhasil membangun semangat keacehan. Dan pada hari ini tiga tahun yang lalu, ayah Karim Tiro itu kembali ke alam damai. Hasan Tiro pergi tanpa mewariskan harta benda. Padahal awalnya, Hasan Tiro punya apa-apa dalam arti memiliki istri yang cantik, anak yang ganteng, harta dan koneksi yang cukup di New York, Amerika Serikat.

Namun pada akhirnya, anak pasangan Tengku Muhammad Hasan dan Pocut Fatimah ini apa-apa pun tidak punya secara materi. Tidak memiliki rumah pribadi, mobil yang mewah, dan fasilitas yang wah. Keadaan ini berbanding terbalik dengan sebagian yang mengaku anak-anak ideologis sang Deklarator Aceh Merdeka itu kini.

Virus kesadaran

Satu warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh Wali yang lahir di Tiro pada 25 September 1925 ini adalah kemampuannya menyuntikkan virus kesadaran bahwa Aceh adalah sebuah bangsa berdaulat, bukan biek lamiët (bangsa budak). Hasan Tiro mengarisbawahi kita boleh kehilangan harta dan takhta, namun tak boleh kehilangan harga diri (dignity) sebagai sebuah bangsa.

Dalam hal ini, saya terkesima membaca pernyataan aktivis perempuan dari Malaysia, Lilianne Fan. Kutipan ini saya temukan dalam buku biografi Hasan Tiro yang berjudul Jalan Panjang Menuju Damai Aceh. “Our fight is not about power, it is about dignity. It is only when all Acehnese have our dignity restored that we will be free,” kata Hasan Tiro kepada Lilianne Fan di Norsborg, Stockholm, Swedia, 23 September 2004.

Makna pernyataan tersebut yakni perjuangan kami bukan untuk kekuasaan, tetapi untuk sebuah harga diri. Hanya pada saat seluruh rakyat sudah mempunyai harga diri, pada saat itulah ia akan merdeka.

Tak pelak, aktivis yang sering bolak-balik Malaysia, Aceh dan seluruh dunia untuk mengabarkan nestapa Aceh itu menetes air mata mendengar ucapan langsung Hasan Tiro. Aktivis beretnik Cina ini sangat peduli pada derita rakyat Aceh. Saya yakin, hampir semua orang Aceh di Malaysia mengenal sosok perempuan berambut panjang dan murah senyum ini.

Ungkapan yang bernada sama pernah pula diungkapkan oleh Hasan Tiro dalam bukunya The Price of Freedom di mana Wali mengumpamakan dirinya dengan Kaisar Romawi, tetapi yang membedakan dia dengan sang Kaisar hanyalah: 

Ceasar had a legion with him. I have nothing. I come back alone-un-armed. I have no instrument of power. I brought only a message that of national salvation and survival of the people of Acheh Sumatra as a Nation, and a reputation of a Tiro-man. (Kaisar punya pasukan, sedangkan saya tak punya apa-apa. Saya hanya membawa pesan untuk bangkitnya rakyat Aceh dan mengembalikan nama baik sebagai anak Tiro).

Pada 4 September 1976, Hasan Tiro meninggalkan istri yang cantik, Dora, dan bocah kecil semata wayang yang sangat tampan, Karim, serta dunia bisnis yang sedang digelutinya baik di AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika maupun Asia Tenggara untuk terbang ke tanoh endatu, Aceh. Padahal dia sudah hidup mewah di Amerika Serikat. Ia memilih pulang demi marwah bangsa Aceh. Cita-citanya tidak ada lagi orang Aceh miskin yang hidupnya mengemis ke sana ke mari.

Di New York, Hasan Tiro bisa minum Coca-cola atau jalan bebas ke mana pun karena dia berstatus penduduk tetap (permanent residence) Amerika Serikat. Sebaliknya selama dua tahun lebih di rimba Aceh, Hasan Tiro menderita karena sering berpindah-pindah, makan tak cukup bergizi, dan berteman nyamuk bersama rekan-rekan seperjuangannya.

Hasan Tiro pulang dengan membawa segepok bekal yang akan ditularkan kepada rakyat Aceh, yakni ideologi turie droe dan tusoe droe, dan tidak rendah diri (imperiority complex) saat berhadapan dengan bangsa lain. “Aceh mesti jaya seperti pada masa Sultan Iskandar Muda,” ungkapnya.

Hal itu bisa terjadi jika mayoritas kita orang Aceh berpendidikan dan punya sikap dalam hidup, cinta negeri, serta memiliki kaum intelektualyang punya ideologi keacehan yang jelas serta berani menyatakan yang benar walaupun itu pahit.

Mungkin kalau Hasan Tiro bisa bangkit kembali dari alam kubur, dia akan ingatkan kita tentang bagaimana sengsaranya rakyat dan para pejuang selama 30 tahun lebih di hutan Aceh, berbagi makanan sama rata, satu telur asin dimakan bersama, nasi dicampur dengan boh janeng.

Tetapi pria brilian dan bernyali besar itu sungguh akan menangis melihat perilaku kita saat ini. Di mana rakyat di pedalaman masih hidup menderita dengan penuh derai air mata, karena gagal panen, didera banjir, dan susah mencari rezeki.

Di pihak lain, pascadamai 15 Agustus 2005 ada di antara kita yang bertransformasi menjadi preman gampong, mengkhianati bangsa, melupakan sumpah perjuangan, dan hidup mewah di tengah gemerlap nikmat duniawi. Kehidupannya bak seorang raja di tengah teman seperjuangannya yang masih bercucuran air mata.

Terlena simbolik

Perjuangan yang berujung damai ini telah mempolarisasi kita menjadi dua kelompok; yang “bermata air” dan yang “berair mata”. Kalau Wali masih bisa hidup kembali, dia akan ingatkan kita pada sumpah perjuangan yang tidak boleh lekang oleh waktu bahwa perjuangan tujuannya untuk kemakmuran bangsa Aceh.

M. Adli Abdullah Bawareth
Kita hari ini sudah sangat terlena dengan kerja-kerja simbolik dan bisikan-bisikan para pembual yang kadangkala pada masa konflik justru menghujat sang Wali. Memang rakyat butuh simbol-simbol, namun lebih butuh lagi kebutuhan dasar manusia seperti warga mesti kuat di bidang ekonomi, tangguh menguasai ilmu pengetahuan dan alim dalam membaca perkembangan zaman.

Mengenang tiga tahun berpulangnya “Bapak Revolusi Aceh” ini dengan mengingatkan apa saja yang telah dilakukan oleh mantan pemanggul senjata kepada rakyat. Di sisi lain, rakyat pun menyadari bahwa Hasan Tiro telah mendidik warga untuk memiliki harga diri. Satu bentuk marwah tersebut adalah tidak menjadi pengemis harta, uang, hingga pengemis kekuasaan, mengabaikan marwah dan menggadaikan harga diri.

*M. Adli Abdullah, Pencinta para pejuang bangsa.

Read more: http://www.atjehcyber.net/2013/06/in-memoriam-hasan-tiro-bapak-revolusi.html#ixzz2VK4mBizi

Dalam Keunangan Wali Neugara Tgk. Hasan M. di Tiro

Dalam Keunangan Wali Neugara Tgk. Hasan M. di Tiro

25 September 1925 - 3 Juni 2010

Subhanallah wahdahuwa bihamdihi
Meninggai Wali lah Wali ulôn tjalitra
Adjai ka sampoë ka trôk ban djandji
Geuwoë bak Rabbi u Alam Baqa
Buët peumeurdéhka gohlom seulusoë
Katrôk rakan droë Wali djitaki
Djitjok Atjèh njoë djadèh djipubloë
Di lua nanggroë kuta Helsinki
 Wali ka tuha meu-gok-gok djaroë
Meu keutuboh droë ubat gob njang bri
Han ék geupiké lé keu hai nanggroë
Bandum atra njoë Meuntroë ngon Zaini
Djitjok Wali djitiëk lam sagoë
Djipubuët keu droë peuë2 njang kheun kri
Keu hai meurdéhka hana djipakoë
Djituka djinoë ngon otonomi
Watèë lôn ingat seudéh han sakri
Rap abéh wali djidjok keu djawa
Djitém peutamong droëneuh njan lam RI
Njang Wali tjatji jôh masa teuga
Diëpnan keuh paléh Malék ngon Zaini
Keu sumpah Wali hana djikira
Bak ureuëng Atjèh Wali meudjandji
Kon otonomi ta tjok meurdéhka
Hana meugabông deungon RI
Bah saboh lori djibri beulanja
Mangat ta peudong ban hukôm Rabbi
Bèk hukôm RI ngon Pantjasila
Ta lakèë do'a keudéh bak Rabbi
Beugeubri Wali beu-ampôn dèsja
Beugeupeutamong dalam djannati
Sapat ngon Nabi Saidil Mustafa
Bèk djeuët keu utang njang geumeudjandji
Ja Allah neubri beu ampôn dèsja
Deungon sjuhada beusapat Wali
Ngon Teungku Lah Sjafi'i dalam sjuruga
Wilajah Meudèëlat, 3 Juni 2013

Zulkarnain vs Iskandar (Alexander Agung)

Zulkarnain adalah sebuah nama yang dikisahkan dalam al Quran surah al Kahfi (QS 18 : 83 – 99). Sementara Iskandar atau Alexander Agung adalah nama seorang raja dari Makedonia, putra dari raja Filipus.
Zulkarnain dalam al Quran:
- melakukan tiga perjalanan : ke arah timur, ke arah barat, ke suatu arah dimana disana bermukim tiga bangsa (bangsa Ya’juj, bangsa Ma’juj, bangsa yang memonohon pertolongan pada Zulkarnain untuk membuatkan dinding pembatas dg bangsa Yajuj dan Majuj)
- Zulkarnain adalah seorang raja yang beriman pada Tuhan Yang Maha Esa, ia diberi kewenangan oleh Tuhan untuk menghukum raja dari negeri yang dikunjunginya atau malah memberikan jabatan tertentu kepadanya.
- Zulkarnain membangun tembok besi dilapisi coran tembaga setinggi gunung yang memisahkan Yajuj-Majuj dengan bangsa yang ditemui Zulkarnain.
- ciri2 negeri di sebelah barat : matahari terbenam di laut yang berlumpur hitam. kepada bangsa ini Tuhan memberikan kewenangan kepada Zulkarnain utk menyiksa penduduknya atau berbuat baik pada mereka. Tapi Zulkarnain berkata “yang aniaya akan kami siksa, tp yg beriman dan berbuat baik akan diberi ganjaran yang terbaik dan kami beri titah dari perintah2 kami”
- ciri2 negeri di sebelah Timur : matahari menyinari sebuah negeri yang tanpa pelindung dari teriknya matahari tersebut.
- ciri2 negeri ketiga : terletak diantara dua gunung, bahasa penduduknya tidak bisa dimengerti oleh bangsa lain karena terlalu jauh bedanya.
Kisah Alexander
Ia seorang putra dari Raja Makedonia bernama Filipus. Alexander yang seorang yang ambisius, ingin menguasai dunia. Dia berhasil mencapai pegunungan Hindu Kush, namun ekspedisi sungguh menelan banyak energi. Ia dan pasukannya kembali ke Yunani dalam kelelahan.
Alexander diisukan terlibat dalam suka teman sejenis, bernama Hepasthion. Ia wafat tak lama sesudah teman tercintanya itu meninggal karena sakit sepulang dari India. Alexander meninggalkan janin dalam perut istrinya budak Persia.
Jadi disini sangat kontras perbedaan antara Zulkarnain yang digambarkan dalam Al Quran dengan Iskandar yang dirajakan di Yunani. Namun para sejarawah dan penulis Tambo terlalu bersemangat menggabungkan dua ini menjadi satu kesatuan, menjadi Iskandar Zulkarnain. Kadang-kadang dibubuhi kata Sultan sehingga menjadi Sultan Iskandar Zulkarnain, yang dipercaya merupakan nenek moyang orang Melayu dan Minangkabau.
Wallahu a’lam

ORANG JAWA DIMATA KESULTANAN ACEH

ORANG JAWA DIMATA KESULTANAN ACEH

oleh : margono dwi susil

Sebagai orang Jawa yang tinggal di Banda Aceh tentu saya tertarik dengan keberadaan sebuah tempat yang secara resmi diberi nama Gampong Jawa. Konon kampung ini sudah ada sejak jaman kesultanan Aceh, sebagai bukti masa lalu Aceh memang kosmopolitan. Beberapa kali saya kesana untuk melihat orang-orang, laut, sambil sesekali mancing. Kali ini saya tidak akan bercerita tentang mancing, tetapi yang lebih substantif.

Seperti biasanya jumat adalah waktu yang spesial, setidaknya pada hari itu sholat jumat digelar. Kami pegawai Kementerian Keuangan di Banda Aceh berduyun-duyun memenuhi masjid Gedung Keuangan Negara (GKN) hendak menunaikan ibadah. Hampir semua pegawai Kementerian Keuangan yang ditempatkan di Banda Aceh adalah muslim, sehingga penuh sesak masjid kami. Tetapi ada sekelompok manusia yang secara mencolok tidak menunaikan kewajiban jumat. Mereka memang bukan PNS, tetapi tukang bangunan yang mengerjakan proyek di GKN. Mereka hanya duduk santai sambil memandangi kami yang berduyun-duyun menuju masjid. Semua makfum bahwa tukang bangunan tadi adalah pendatang dari Jawa (atau setidaknya orang Jawa yang lahir di Sumatera) yang sebagian besar muslim.

Teman saya yang Aceh, sempat nyeletuk, itulah orang Jawa, banting tulang demi dunia tetapi lupa Tuhan. Pada tahap ini saya setuju atas penilaian itu, bahwa Jawa sebagai muslim – tentu tidak semua — sering tidak taat, bahkan cenderung singkretik dan mistik, percaya pada danyang penunggu kuburan dan Nyi Roro Kidul.

Karena cukup terusik, selepas sholat jumat, saya menemui para tukang bangunan tersebut. Mengapa tidak sholat jumat? Jawaban mereka simple saja, “untuk apa sholat jika membohongi diri sendiri.” Mereka justru mengklaim kami yang berduyun-duyun ke Masjid sebagai para munafik. Rajin sembahyang tetapi tetap korupsi. Selidik punya selidik rupanya mereka sangat terpengaruh oleh kasus Gayus Tambunan. Bahwa orang Keuangan adalah tipikal Gayus, hanya saja kebusukannya belum terbongkar. Dimanapun, walau ia cuma tukang bangunan, orang Jawa selalu pandai berfikir filosofis, bukan demi kebaikan, tetapi demi menghindar dari kewajiban, kadangkala yang syari’i sekalipun.

Lantas bagaimana Aceh memandang Jawa secara lebih subtil?

Ini tentu sulit. Karena Acehpun heterogen. Masyarakat Aceh di pantai timur-utara tentu beda dengan barat-selatan dalam memandang masyarakat pendatang, terutama dari Jawa.Perbedaan itu disebabkan oleh sejarah, terutama sejarah konflik. Perjumpaan masyarakat pantai timur-utara Aceh dengan Jawa bermula saat armada barat Majapahit menaklukkan Kerajaan Pasai di Aceh Utara pada sekitar 1350 Masehi (Kawilarang, 2008). Sejak itu hubungan Aceh-Jawa mengalami pasang surut. Pernah suatu ketika Aceh bekerjasama dengan Jawa saat bahu membahu memerangi Portugis yang menguasai Malaka. Ini terjadi pada masa Pangeran Sabrang Lor Pati Unus, pada 1521 M. Karena hubungan perjuangan ini Ratu Kalinyamat – putri Sultan Demak Trenggono – dinikahkan dengan Raden Toyib salah seorang putera Sultan Aceh Mughayat Syah. Raden Toyib akhirnya dikenal dengan nama Pangeran Hadiri.

Pada 1564 Sultan Aceh Ali Riayat Syah mengirimkan utusan ke Jawa meminta bantuan memerangi Portugis. Karena salah paham utusan Aceh tersebut justru di bunuh oleh Aria Pangiri, putra Sunan Prawata (Sultan Demak keempat). Hanya karena faktor Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadiri hubungan Aceh dan Jawa relatif tetap baik.

Pada tahun 1573 Sultan Aceh kembali meminta bantuan Ratu Kalinyamat (waktu itu ia penguasan Jepara bawahan Demak) untuk menyerang Portugis. Jawa mengirim pasukan sebanyak 15.000 orang dengan 300 kapal, tetapi terlambat, sehingga armada Aceh sudah dipukul mundur Portugis. Sejak itu kepercayaan Aceh terhadap Jawa menipis, apalagi sejak kematian Ratu Kalinyamat pada 1579.

Bagi anda penggemar sejarah tentu mengetahui bahwa sejak tahun 1873 Aceh berperang dengan Belanda sampai menjelang kedatangan Jepang. Tahukah anda suku bangsa nusantara yang paling banyak membela Belanda dalam memerangi Aceh? Ya benar, suku Jawa. Paling tidak hal ini menurut pandangan Aceh. Ribuan kompeni KNIL yang dikirim ke Aceh sebagian besar suku Jawa, disamping Eropa, Ambon, Timor dan Minahasa. Kalau anda tinggal di Banda Aceh anda bisa mengunjungi Kuburan Belanda Kerkoff. Semua orang Aceh tahu bahwa justru yang dikubur disitu dominan orang Jawa yang masuk dalam kedinasan KNIL. Anda akan menemui nama-nama Jawa seperti Kromodengso, Kromodiryo, Semito, Prawiroyudo dan seterusnya. Ratusan bahkan mungkin seribu nama-nama Jawa. Kerkoff adalah monumen bahwa Jawa pernah membela Belanda (penjajah kafir), dan Jawa akhirnya terbunuh di Aceh.

Kalau anda juga suka membaca aktivis Aceh dalam memahami hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta, tentu anda akan mendapat banyak statement bahwa Aceh di masa revolusi merupakan daerah modal bagi Republik. Tidak terkira sumbangan Aceh terhadap bayi Republik, sebut saja misalnya pesawat RI-1 Seulawah dan Radio Rimba Raya. Atau misalnya kisah Presiden Sukarno yang menghiba-hiba ke ulama Aceh agar rakyat Aceh membantu Republik yang dalam kesulitan besar. Semua permintaan Sukarno dipenuhi oleh rakyat Aceh, dengan imbalan syariat islam akan ditegakkan di bumi serambi mekah. Tetapi setelah republik stabil justru Aceh dilebur dalam propinsi Sumatera Utara pada 23 Januari 1951. Bagi Pemerintah di Jakarta peleburan itu demi efisiensi. Bagi Aceh ini adalah pengkhianatan ala Indonesia yang kebetulan dipimpin orang Jawa. Dikatakan Indonesia (Jawa) adalah negara yang mudah membuat janji tetapi mudah pula ingkar. Dalam berbagai propaganda dikatakan perilaku Jawa yang suka mengkhinati janji ini dibaratkan seperti perilaku Yahudi. Kekecewaan ini pada akhirnya menyulut Daud Beureueh mendukung DI/TII Kartosuwiryo pada 20 September 1953.

Berbeda dengan Daud Beureueh yang membawa panji islam, Hasan Tiro memilih cara berbeda dengan mengedepankan romantisme sejarah dan sentimen etno-nasionalis, walau faktor ekonomi dan eksploitasi kekayaan alam Aceh oleh pemerintah Orde Baru tetap merupakan faktor penting. Dikembangkanlah indoktrinasi bahwa Aceh merupakan korban dari kolonialisme Jawa. Bagi Tiro dan pendukungnya, Aceh pernah gemilang di masa Sultan Iskandar Muda (berkuasa 1607-1636) dan terpuruk dijaman Belanda dan Indonesia (Jawa). Perhatikan teks proklamasi GAM yang dikumandangkan di Pidie 4 Desember 1976 :

“To the people of the world: We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self-determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java….In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra.”

Jika digunakan bahasa yang lugas dan jujur, GAM dibentuk untuk membebaskan Aceh dari penjajahan Jawa.

Pemerintah Orde Baru menjawab tegas dengan mengirimkan tentara. Sebagian wilayah Aceh menjadi daerah operasi militer (DOM). Ribuan orang menjadi korban. Tetapi ironisnya, dalam konflik ini, suku Jawa yang tinggal di Aceh kembali menjadi kambing hitam, sering dituduh mata-mata tentara. Dimulai dari tentara yang memang kebetulan banyak yang berasal dari suku Jawa. Tentara melakukan kekejaman, dan Jawa pun akhirnya dituduh kejam. Ada pameo dari masyarakat Aceh : “Aceh gila, Jawa kejam.” Propaganda GAM selalu mempukul rata bahwa tentara di Aceh (terutama BKO) adalah perpanjangan kolonialisme Indonesia-Jawa. Masa DOM dan Darurat Militer semakin mengentalkan opini bahwa Jawa – dimulai sejak jaman Majapahit – adalah penjajah.

Harus diakui bahwa secara kultur, orang Aceh dan Jawa sulit untuk duduk bersama dalam meja perundingan. Apa pasalnya? Konon orang Jawa seperti blangkon, ngomongnya A tetapi maksudnya B. Tutur katanya halus, tetapi penuh siasat dan menelikung. Jangan heran jika Jusuf Kalla saat memprakarsai perundingan damai dengan GAM tidak menyertakan satupun delegasi RI yang berasal dari Jawa. Ini memang strategi jitu dari Jusuf Kalla, yang hasilnya kita telah sama-sama tahu : Aceh damai dalam pelukan NKRI.

Dari narasi diatas dapat disimpulkan bahwa Jawa di mata Aceh setidaknya meliputi hal-hal sebagai berikut : pertama Jawa adalah bangsa yang tidak taat sebagai muslim, cenderung sinkretik dan percaya pada tahyul, kedua Jawa adalah bangsa yang suka ingkar janji selayak yahudi, ketiga Jawa adalah bangsa penjajah atau setidaknya kolaborator penjajah kafir, dan keempat Jawa adalah licik dan kejam.

Pertanyaannya, apakah semua orang Aceh memandang Jawa seperti itu? Tentu tidak. Pandangan negatif tersebut muncul karena konflik, dan diimani oleh orang-orang yang terkepung konflik. Tanpa konflik tentu pandangan Aceh terhadap Jawa akan normal-normal saja, bukankah Al-Quran sendiri menegaskan manusia itu diciptakan berbangsa-bangsa dan bergolong-golong. Mustahil orang Aceh tidak memahami penegasan Al-Quran tersebut. Masalahnya memang hampir separoh orang Aceh terimbas konflik. Wilayah Aceh yang steril konflik, seperti di Gayo Luwes, Takengon, Singkil, Aceh Selatan, sebagian Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Simeulue, Sabang cukup terbuka kepada pendatang, termasuk dari Jawa. Dimanapun dan kapanpun konflik memang memupuk sentimen negatif terhadap apapun. Aceh adalah laboratorium bahwa manusia bisa berubah karena konflik. Pengusiran transmigran dari Jawa pasca reformasi dan penembakan buruh dari Jawa akhir-akhir ini adalah bukti bahwa sentimen itu belum pupus.

Seperti yang lalu-lalu sore itu saya keliling kota Banda Aceh, melihat kembali Kampung Jawa di pinggir pantai. Tidak seperti biasanya saya terkesima dan baru sadar, bahwa sebagian Kampung Jawa telah dijadikan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah raksasa. Di tempat inilah dibangun juga IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) sejak 1995. Apakah ini suatu kebetulan karena posisinya sesuai? Ataukah memang ini sebentuk penistaan? Mungkin ada yang lebih arif memberikan tafsir.

Karena penasaran saya mengontak salah seorang kolega di Pemerintah Kota Banda Aceh. Saya yakin dia tahu sejarah TPA dan IPLT tersebut. Kami telah terbiasa kerjasama dalam urusan kedinasan, sehingga tidak canggung lagi dalam berkomunikasi. Sayapun bertanya tentang hal tersebut dengan nada bercanda, karena memang ini hanya remeh-temeh. Ia tersenyum saat saya menanyakan hal tersebut. Bisa-bisa aja katanya. Justru ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Sejurus kemudian, dengan mimik serius dia menceritakan, “itu hanya kebetulan saja karena lokasinya memang strategis.” Sayapun mendebat “bukankah lebih baik Pemerintah Kota menyewa lokasi yang agak jauh di luar kota, misalnya di daerah Aceh Besar, TPA dipinggir laut tentu tidak layak, apalagi lahan pinggir laut selalu terbatas.”

Kolega saya tersenyum…”oke Mas, terus terang saya tidak tahu pertimbangannya apa. Tetapi yang jelas sudah ada analisa dari Bapedal. Ambil hikmahnya saja, bukankah TPA dan IPLT itu sesuatu yang sangat penting. Dengan demikian Kampung Jawa mengambil peran yang sangat penting pula, merubah sampah dan limbah menjadi sesuatu yang ramah. Bukankah itu luar biasa, merubah keburukan jadi kebaikan.”

Saya tidak menduga, ia begitu arif diusianya yang masih muda. Dia juga menceritakan apa jadinya rekonstruksi Aceh pasca Tsunami tanpa arsitek, tukang dan buruh dari Jawa. Di Aceh banyak kontraktor berebut tender, tetapi miskin buruh dan tukang. Aceh lebih percaya Jawa dalam hal keahlian seperti itu. Akhirnya, pada beberapa sisi Jawa memang tidak disukai, tetapi kehadirannya selalu dicari.